Sabtu, 23 Januari 2010

MENJADI PEMIMPIN YANG OTORITER

Setiap mendengar kata otoriter, kita pasti akan terbayang
dengan seorang pimpinan yang mengharuskan segala kehendaknya terlaksana oleh
bawahannya. Otoriter juga terkadang dinisbatkan kepada seseorang yang berjiwa
‘pemaksa’, sampai-sampai orang lain dibuatnya tidak memiliki pilihan lain
kecuali pilihan yang ia sodorkan. Orang-orang seperti ini banyak disekitar
kita. Kita terkadang menyebutnya sebagai ayah atau ibu, manajer, atasan, lurah,
gubernur, bahkan presiden.

Dalam Oxford Dictionary,
otoriter (authority) didefinisikan sebagai power to give orders; expert. Dalam
dunia politik atau pemerintahan dan bisnis, definisi pertama yang sering
digunakan. Authority menunjukkan sifatnya
sedangkan otoriter merupakan pelakunya. Kira-kira seperti itu. Power to give orders bisa berarti
kekuasaan tak terbatas (unlimited power)
yang membuat orang yang berkuasa tersebut bisa seenaknya saja memberikan (to give) perintah (orders). Singkatnya, seperti yang
sudah saya definisikan sebelumnya, memerintah orang lain seenaknya.

Beberapa negara menerapkan konsep otoriter ini dengan sangat
baik. Beberapa yang lain cukup kerepotan dan kebanyakan malah hancur
berantakan. Dalam jangka pendek, otoriter memang sangat bermanfaat dan memegang
peranan penting untuk memotong jalur birokrasi dan perintah yang
berbelit-belit; di sisi lain, otoriter menanamkan benih-benih pemberontakan
karena, sama seperti halnya kita, semua manusia memiliki pilihannya sendiri.

Lain halnya dengan kehidupan militer yang memang dekat
dengan sistem otoriter, masyarakat sipil dan bisnis tidak terbiasa dengan
sistem ini. Anda bisa tahu mengapa? Dalam militer, otoriter dapat berhasil
dengan baik karena para komandan mereka memberikan contoh yang sama persis
dengan apa yang mereka perintahkan. Perintah itu pun hanya terbatas pada
perintah yang bersifat umum, bukan pribadi. Kalaupun pribadi, saya berani
bertaruh bahwa para komandan mereka telah melakukannya terlebih dahulu.

Dunia sipil dan bisnis tidak dibangun dengan cara bagaimana
dunia militer dibangun. Sipil dan bisnis memiliki banyak sekali kemungkinan
pemecahan yang kreatif. Jika memang ingin menerapkan konsep otoriter dalam
dunia ini, sipil dan bisnis, Anda harus mampu memberikan contoh signifikan yang
sama persis dengan apa yang Anda perintahkan. Militer memiliki apa yang tidak,
atau belum, dimiliki oleh dunia sipil dan bisnis yaitu: kepemimpinan dan
keteladanan.

Anda dapat mencari contoh pemimpin otoriter dunia yang
berhasil. Mereka pasti memiliki kapasitas minimal dua hal diatas. Lainnya akan
jatuh berantakan dalam waktu dekat. Dan memang, hampir di manapun di permukaan
bumi ini, sistem otoriter tak akan bertahan dalam waktu yang sangat lama.

Kini kita kembali kepada dunia kecil kita dimana kita hidup
dan beraktifitas. Apapun jabatan Anda, entah sebagai bawahan atau atasan, Anda
dapat menemui sikap otoriter ini dimana-mana. Bila Anda sebagai bawahan, Anda
mungkin merasakan kejamnya otoriter. Namun bila Anda berada di ‘atas’, Anda
tahu betapa nikmatnya menjadi otoriter.

Jika Anda sebagai korban otoriterianisme
(aliran otoriter), pesan saya bersabarlah. Jika Anda mampu, ajukan keberatan
tentang sikap tersebut. Diskusikan dan temukan jalan keluarnya. Jika Anda tidak
mampu, bersabar dengan tekanan mungkin tidak lebih baik, namun berjuang
setengah-setengah pun sama buruknya. Jika dapat, hindarilah dan keluarlah
secepat mungkin.

Jika Anda adalah seorang otoritarianisme,
saya sarankan untuk menjalankannya dengan sangat baik. Bila perlu jalankan
dengan sempurna. Maksud saya, jalankan dengan penuh ‘keteladanan’ dan ‘kepemimpinan’
yang ‘berkualitas’. Jika Anda memaksa bawahan atau anak buah Anda untuk
melakukan sesuatu sekarang juga dengan sesempurna mungkin, lakukan hal tersebut
terlebih dahulu oleh Anda di depan mereka semua. Sama seperti seorang komandan
yang berlari terlebih dahulu sebelum menyuruh anak buahnya berlari. Saya yakin
Anda tidak akan bisa (atau tidak akan mau) kecuali Anda seorang komandan
militer.

Jika Anda tidak dapat melakukan keteladanan dengan
‘sempurna’, maka sebaiknya tinggalkan sikap otoritarianisme
Anda. Pilihan Anda hanya dua: menjadi seorang yang terbuka dan bersahabat atau
jatuh dengan rasa sakit yang tidak tertahankan. Tidak ada pilihan lain untuk
Anda.

Pepatah mengatakan, “intolerance is the last
defence of insecure
.” Inilah biasanya yang dilakukan para otoritarianisme ketika mereka
melihat tanda-tanda kejatuhan mereka. Mereka bersikap intoleransi. Mereka
menjadi uring-uringan. Kalap. Menghalalkan segala cara. Menindas dengan
kekuasaan. Membungkus perilaku jahatnya dengan kebohongan. Membentengi dirinya
dengan jabatan. Mencari aman.

Lebih jauh lagi, sikap intoleransi ini terlihat pada
bagaimana mereka memperlakukan orang-orang yang menentang mereka. Intimidasi. Ancaman.
Perang urat syaraf. Penyerangan secara fisik. Pemboikotan. Pemfitnahan. Pemecatan.
Hingga rencana pembunuhan yang tersusun rapi. Semuanya hanya karena sikap egoisme
pribadi yang disebut dengan otoriter.

Sudahkah kita bercermin? Apakah sikap-sikap dalam dua paragraf
terakhir diatas ada dalam diri kita? Jika Anda menemukan salah satunya, selamat!
Anda telah jujur pada diri sendiri. Tapi jika tidak, hanya ada dua kemungkinan:
Anda bukan seorang otoriter atau Anda adalah seorang otoriter sejati!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar